← Back to Archive

Dari Riset Molekuler Menuju Diagnosis Point-of-Care: Tren Global CRISPR–Cas untuk Pengendalian dan Tatalaksana Tuberkulosis

Kadek Darmawan — Universitas Gadjah Mada

Tuberkulosis CRISPR–Cas Analisis bibliometrik Diagnostik molekuler Indonesia.

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi di dunia, dengan Indonesia termasuk di antara negara-negara yang memiliki beban TB tertinggi. Keterlambatan diagnosis, resistensi obat, serta keterbatasan akses terhadap teknologi diagnostik yang canggih masih menjadi hambatan dalam upaya pengendalian TB, terutama di wilayah dengan sumber daya yang terbatas. Teknologi CRISPR–Cas dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang sebagai platform yang menjanjikan untuk diagnostik molekuler yang cepat, sangat sensitif, serta pengembangan terapi inovatif. Namun, perkembangan global teknologi ini beserta implikasinya bagi negara dengan beban TB tinggi, seperti Indonesia, belum pernah disintesis secara komprehensif. Metode: Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan basis data Scopus untuk mengidentifikasi publikasi mengenai penerapan teknologi CRISPR–Cas pada tuberkulosis selama periode 2005–2025. Berdasarkan kriteria kelayakan yang telah ditetapkan, sebanyak 71 publikasi diikutsertakan dalam analisis. Pemetaan bibliometrik dilakukan menggunakan perangkat lunak VOSviewer dan Biblioshiny (RStudio) untuk mengevaluasi tren publikasi, ko-okurensi kata kunci, evolusi tema penelitian, struktur konseptual, serta hotspot penelitian. Hasil: Penelitian global mengenai pemanfaatan CRISPR–Cas untuk TB meningkat secara signifikan sejak tahun 2018, dengan artikel penelitian asli mendominasi publikasi yang tersedia. Enam klaster penelitian utama berhasil diidentifikasi, yang menunjukkan adanya pergeseran yang jelas dari penelitian biologi molekuler dasar menuju aplikasi diagnostik yang lebih praktis. Penelitian terkini semakin berfokus pada platform CRISPR–Cas12a dan Cas13a untuk deteksi cepat, identifikasi resistensi obat, serta diagnostik point-of-care. Pemetaan konseptual juga menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap diagnostik molekuler, sensitivitas, dan teknologi lateral flow. Meskipun demikian, tidak ditemukan publikasi yang berasal dari Indonesia dalam kumpulan artikel yang dianalisis, yang menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam penelitian maupun implementasi teknologi ini, meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TB yang tinggi. Kesimpulan: Bukti global menunjukkan bahwa teknologi CRISPR–Cas berkembang dengan cepat dari penelitian molekuler eksperimental menuju platform diagnostik tuberkulosis yang berpotensi diterapkan dalam praktik klinis. Bagi Indonesia, penguatan kapasitas penelitian, validasi klinis, kesiapan regulasi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi aspek penting untuk mendukung adopsi teknologi ini secara bertanggung jawab. Temuan penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung penentuan prioritas penelitian di masa mendatang serta menjadi bahan pertimbangan dalam diskusi strategis mengenai integrasi teknologi molekuler baru ke dalam upaya pengendalian TB nasional.