ANALISIS BELANJA PENYAKIT KATASTROPIK DALAM SKEMA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN): EVIDENCE FOR SUSTAINABLE HEALTH FINANCING IN INDONESIA
ayuc shinta indah sari — Center for Health Economic and Policy Studies
Abstract
Kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU) merupakan penyakit prioritas nasional dengan beban penyakit dan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat dan tertinggi setiap tahunnya. Bukti mengenai pola pembiayaan KJSU dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperlukan untuk mendukung keberlanjutan pembiayaan menuju Universal Health Coverage (UHC) dan perlindungan finansial. Penelitian ini bertujuan menganalisis tren dan karakteristik belanja KJSU dalam skema JKN pada periode 2022–2023. Analisis menggunakan data klaim JKN BPJS Kesehatan tahun 2022–2023 yang mencakup pembayaran kapitasi FKTP, klaim non-kapitasi FKTP, dan klaim FKRTL. Belanja berdasarkan jenis penyakit diklasifikasikan ke dalam kerangka Disease Accounts WHO yang telah diadaptasi untuk konteks Indonesia berdasarkan diagnosis (ICD-10), INA-CBGs, dan kelompok umur. Hasil analisis menunjukan pada tahun 2023, belanja KJSU meningkat dibandingkan tahun 2022, terutama pada stroke (39,4%), uronefrologi (35,8%), kardiovaskular (29,2%), dan kanker (28,9%). Belanja penyakit kardiovaskular mencapai Rp16,1 triliun kunjungan banyak terjadi pada kelompok usia 50–64 tahun, lebih detail Acute Myocardial Infarction (AMI) menyumbang 14% dari total belanja dan lebih banyak terjadi pada laki-laki. Belanja kanker mencapai Rp13,8 triliun dengan klaim kunjungan terbanyak pada kelompok usia 40–54 tahun, Kanker payudara menyerap beban belanja tertinggi (Rp521 miliar), diikuti kanker kolorektal (Rp323 miliar), kanker paru (Rp235 miliar), dan kanker serviks (Rp162 miliar). Belanja stroke mencapai Rp4,1 triliun, dengan Stroke Non-Haemorrhage berkontribusi sebesar 46% dari total belanja stroke. Sementara itu, belanja uronefrologi mencapai Rp13,7 triliun dengan kunjungan terbanyak pada kelompok usia 30–59 tahun. Peningkatan pembiayaan KJSU dalam skema JKN menunjukkan semakin besarnya beban penyakit tidak menular terhadap sistem pembiayaan kesehatan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan strategi pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan layanan yang efisien untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan JKN dalam mendukung Universal Health Coverage.