EVALUASI EKONOMI UJI KULIT BERBASIS ANTIGEN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS (TBST) UNTUK SKRINING INFEKSI TUBERKULOSIS: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR
Kholifatul Azizah — Yayasan Riset dan Pelatihan Respirasi Indonesia (RPRI)
Abstract
Latar Belakang: Skrining infeksi tuberkulosis (TB) masih banyak menggunakan tuberculin skin test (TST) berbasis purified protein derivative (PPD), meskipun spesifisitasnya terbatas pada populasi dengan cakupan vaksinasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG) tinggi. TB antigen-based skin test (TBST) berbasis antigen ESAT6-CFP10 dikembangkan sebagai alternatif dengan sensitivitas sebanding, spesifisitas lebih tinggi, dan biaya lebih rendah dibandingkan interferon-gamma release assay (IGRA). Tujuan: Meninjau karakteristik dan temuan evaluasi ekonomi primer TBST yang dipublikasikan pada 2020–2026. Metode: Tinjauan literatur dilakukan melalui penelusuran terarah pada PubMed/MEDLINE dan sumber daring lainnya menggunakan kata kunci terkait TBST, TST, IGRA, dan evaluasi ekonomi. Sembilan evaluasi ekonomi primer yang membandingkan TBST dengan TST dan/atau IGRA disertakan dan dirangkum berdasarkan negara, populasi, model, horizon waktu, pembanding, dan luaran. Hasil: Studi berasal dari Tiongkok, Brasil, India, Afrika Selatan, dan Inggris, menggunakan model decision-tree, Markov, atau kombinasinya, dengan horizon waktu 1–77 tahun. TBST secara konsisten menunjukkan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan TST (83–99% vs. 26–59%) dengan sensitivitas relatif setara. Spesifisitas yang lebih tinggi diduga menurunkan biaya melalui pengurangan hasil positif palsu dan pengobatan pencegahan yang tidak diperlukan. Diaskintest dan Cy-TB menunjukkan potensi penghematan biaya pada sebagian besar konteks, sedangkan C-TST/EC dilaporkan dominan di Tiongkok dengan hasil lebih bervariasi di Brasil. Heterogenitas luaran ekonomi membatasi perbandingan langsung antarstudi. Simpulan: Bukti ekonomi TBST terus berkembang, tetapi masih heterogen secara metodologis. Manfaat ekonomi bervariasi menurut harga pemeriksaan dan konteks populasi, sehingga keputusan adopsi memerlukan evaluasi spesifik negara.