← Back to Archive

HUBUNGAN INTEGRASI SATUSEHAT DENGAN PEMULIHAN LAYANAN KESEHATAN ESENSIAL PASCAPANDEMI: ANALISIS TINGKAT PROVINSI DI INDONESIA

Cindy Anastacia — Yayasan RPRI

SATUSEHAT Covid-19 Digital Health Health System Recovery

Abstract

Latar Belakang: Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak 2020 telah mengganggu keberlanjutan berbagai layanan kesehatan esensial melalui perubahan sistem pelayanan, realokasi sumber daya, keterbatasan tenaga kesehatan, dan penurunan pemanfaatan layanan. Digitalisasi kesehatan melalui SATUSEHAT diharapkan mendukung pemulihan layanan dengan mengintegrasikan data dan mempercepat pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan integrasi SATUSEHAT dengan pemulihan layanan kesehatan pasca-COVID-19 pada tingkat provinsi. Metode: Studi observasional ekologis dengan menganalisis 34 provinsi menggunakan data 2019 dan 2024. Luaran meliputi pelayanan antenatal, imunisasi, rawat jalan, rawat inap, dan pengobatan tuberkulosis. Perubahan antartahun diuji dengan paired t-test atau Wilcoxon. Analisis utama menggunakan ANCOVA dengan luaran 2024 sebagai variabel dependen, disesuaikan terhadap capaian awal 2019, tingkat kemiskinan, dan kepadatan tenaga kesehatan. Model memasukkan interaksi antara integrasi SATUSEHAT terstandarisasi dan capaian awal serta menggunakan galat baku robust HC3. Hasil: Dibandingkan dengan tahun 2019, rata-rata capaian pada 2024 untuk pelayanan antenatal menurun 5,73 poin persentase, imunisasi 16,34 poin, rawat jalan 12,89 poin, dan rawat inap 1,36 poin; seluruhnya bermakna secara statistik. Pengobatan tuberkulosis relatif tidak berubah (+0,03 poin; p=0,149). Pada provinsi dengan capaian awal rata-rata, peningkatan satu standar deviasi integrasi SATUSEHAT berasosiasi dengan peningkatan cakupan imunisasi sebesar 7,50 poin (95% CI 2,07–12,93; p=0,0086). Interaksi integrasi SATUSEHAT dan capaian awal signifikan untuk imunisasi (β=0,738; 95% CI 0,250–1,226; p=0,0044), tetapi tidak untuk luaran lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan digitalisasi dengan capaian imunisasi cenderung lebih kuat pada provinsi dengan capaian awal yang lebih tinggi. Kesimpulan: Integrasi SATUSEHAT menunjukkan potensi dalam mendukung pemulihan layanan kesehatan pascapandemi, khususnya pada cakupan imunisasi. Tidak ditemukannya asosiasi serupa pada layanan lainnya menunjukkan bahwa digitalisasi saja belum cukup untuk mendorong pemulihan seluruh layanan kesehatan esensial. Selain itu, diperlukan juga penguatan kesiapan digital dan kapasitas sistem kesehatan, khususnya di provinsi dengan capaian awal layanan yang rendah.